Yang di Media Online Tidak Ada, Tapi Harus Ada di Koran


Hari ini persaingan media cetak (koran) dan media online kian tak terbendung. Menurut salah satu wartawan senior di salah satu media cetak terbesar di Indonesia, koran akan tetap hidup kalau ruhnya terus dirawat. Katanya, minimal gaya dan karakter tulisan harus tetap seperti “koran”. 

Sementara itu, di Surakarta, kita masih punya tokoh yang terus khusyuk mengasuh literasi. Salah satunya perihal kehidupan koran. Tokoh yang sudah lama masyhur itu bernama Bandung Mawardi. Kuncen Bilik Literasi yang akrab disapa Kabut. 

Dua tahun lalu, saya sempat bermalam di Bilik Literasi sebelum ke Jogjakarta. Rumah joglo milik Kabut membuat orang terheran-heran. Ribuan buku baru sampai lawas memenuhi ruang itu. Bukan hanya buku, koran-koran menumpuk di lantai, rak, dan gladak di bawah atap. Malam itu menjadi perjumpaan yang amat singkat. Namun menjadi ingatan sangat panjang. Malam itu pula, Kabut sempat berbicara tentang niatnya untuk membukukan tulisan-tulisan berisi ulasan (esai) tentang isi koran. 

Setahun setelah malam itu, awal Januari 2019, Kabut mewujudkan niatnya tersebut. Dengan menerbitkan buku berjudul “Omelan: Desa, Kampung, Kota”. Dalam buku setebal 476 halaman itu, Kabut “mengomeli” tulisan-tulisan dan foto-foto di koran. Mulai dari kesalahan, kerancuan, hingga kebaikan tulisan. 

Tahun ini, dia kembali menerbitkan omelan-omelan terhadap koran. Kali ini bukunya dijuduli “Pengutip(an).” Buku mungil setebal 112 halaman ini konsepnya tidak jauh berbeda dengan buku Omelan. Namun, isi esa-esainya amat tebal. Benar, Kabut masih istiqomah mengasuh tulisan-tulisan di koran. 

Di kulit belakang buku ini, mulai awal 2020, dia memutuskan membuat kliping tentang pelbagai jenis tulisan yang ada di koran. Kabut meyakinkan pembaca bahwa kliping yang dianggapnya tanpa kaidah-kaidah itu akan tetap (mungkin) berhikmah. 

Wartawan harus tetap menjaga ruh koran. Itu harga mati. Jika sebagian besar media online memilih berita hanya untuk berburu “ratting” di Google Adsense, koran harus tetap menyuguhkan tulisan-tulisan lebih berbobot. Koran harus berada di jalan yang benar. Agar pembaca setianya tidak kepincut dengan orang-orang yang menjadi konsumen berita media online. 

Di tengah situasi penuh ketidakpastian ini, koran harus tetap bisa menjaga optimisme masyarakat. Menyuguhkan tokoh-tokoh inspiratif menjadi salah satu pilihan wartawan untuk ikut andil merawat optimisme tersebut. 

Di halaman 14, Kabut memilih mengulas liputan wartawan Solopos tertanggal 3 Januari 2020, tentang Jono Buku. Dialah penjual buku di Pasar Boyolali yang masih yakin bahwa buku akan tetap laris manis. Kabut menilai keyakinan Jono itu sebuah kekhilafan. Dia menganggap “kehidupan” toko buku di Boyolali sulit ditemukan dalam sejarah kota itu. 

“Pujaan wartawan pantas disimak: “Menjajakan buku adalah kisah panjang bagi Jono. Hampir seperempat abad dia melakoni pekerjaan itu. Dia adalah saksi perubahan pasar buku seturut perubahan zaman.” (h. 15) 

Sebagai wartawan, saya beranggapan bahwa Kabut memberikan contoh salah satu peran yang bisa dilakukan wartawan untuk menjaga optimisme. Yang muncul dari koran yang semakin tersudutkan. 

Beberapa tulisan di buku ini, Kabut juga mengomeli pemerintah dalam membuat kebijakan. Omelan Kabut berawal dari berita yang terbit di Jawa Pos Radar Solo, 12 Januari 2020. Berita itu tentang perpustakaan di kampung. Isinya, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Surakarta memerintahkan untuk membuat gebrakan kegiatan yang kreatif dan inovatif di perpustakaan kampung. 

Kabut beranggapan bahwa perpustakaan di kampung hanya menghimpun dua hal: keluhan dan perintah. Selain itu, pemerintah juga mulai menghitung-hitung hikmah perpustakaan di kampung-kampung. 

“Nah, ada pengumuman penting bagi perpustakaan kampung. Honor bakal bertambah, dari 750 ribu per bulan menjadi 1,6 juta. Hore! Eh, perpustakaan itu hikmah dipengaruhi duit, jumlah kunjungan, atau capaian target dinas?” (h. 45). 

Sejak hadir, masyarakat memiliki harapan besar kepada koran. Entah perihal pemberitaan atau tulisan-tulisan yang mampu memantik semangat dan harapan di masa depan. Dalam hal ini, wartawan memikul beban tersebut untuk mencatat sejarah yang akan dibaca generasi-generasi yang akan datang. 

Di Jawa Pos, 22 Januari 2020, Kabut membaca berita yang bisa memantik sebuah harapan panjang. Wartawan itu menulis pengarang cilik asal Semarang. Namanya Zaskia Talita Sasikarini. Bocah kelahiran 30 Januari 2008 yang sudah menerbitkan enam buku. Saya sepakat dengan Kabut, apakah bocah itu masih bakal menjadi penulis sampai dewasa atau tidak. 

“Hidup tak cuma mengerjakan PR atau mumet mengerjakan soal-soal ulangan...Kita mulai menanti ia bakal dewasa dan masih akan terus menulis meski seribu godaan berdatangan.” (halaman 73). 

Kita patut bersyukur. Karena masih ada orang yang mau mengasuh koran-koran seperti Kabut. Ulasan-ulasan dalam buku ini amat penting dibaca (terutama) para wartawan dan atasan wartawan. Memang benar, terkadang koran memang harus “berdamai” dengan keadaan agar pekerja koran masih bisa terus bernafas. Namun, ada hal yang juga tak kalah penting. Bahwa koran wajib tetap menyatu dengan ruhnya. Koran harus mampu menyalakan optimisme dan harapan rakyat melalui kisah-kisah imajinatif yang tak dijajakan di media online. 


Judul Buku: Pengutip(an)
Penulis: Bandung Mawardi
Penerbit: Mlaku!
Tahun Terbit: Januari 2020
Tebal: x + 112 halaman
Peresensi: Faqih Mansyur Hidayat, Wartawan Jawa Pos Radar Kudus