Belajar dari Gene Sharp dan Gus Dur dalam Menyikapi Kediktatoran


Buku ini tipis, karena tujuannya praksis. Mungkin jika dibaca di masa sekarang, sensasi pacuan adrenalinnya akan berbeda jika dibandingkan saat kita masih dalam ketiak kedikatatoran Orde Baru. Dalam bentang kekuasaan 32 tahun Soeharto, tentu buku ini menjadi kitab suci andalan pejuang demokrasi. Tidak mengherankan jika kata pengantar buku Gene Sharp edisi terjemahan ini, ditulis Gus Dur, sosok pejuang demokrasi dan pluralisme yang getol menentang Soeharto. Menurut saya, tujuan praksis Gene Sharp dalam menulis buku ini tidak selalu harus berhadapan dengan dikatator kakap, tetapi rezim pimpinan di desa, di rektorat sebuah perguruan tinggi, semua bisa diperangi dengan panduan buku ini. 

Sharp mencoba melacak bagaimana awalnya kediktatoran itu terjadi. Jawabannya tentu tidak bisa jauh-jauh dari yang namanya otoritas dalam memerintah (kekuasaan). Sharp juga mencoba menjelaskan proses bagiamna diktator mendapat kekuasaan tersebut. 

Menurutnya semua pemerintah hanya bisa tegak berdiri sepanjang mereka menguasai sumber kekuasaan yang diperlukan. Kekuasaan diktator diperoleh dari kooperasi, penyerahan, kepatuhan penduduk serta lembaga masyarakat yang ada. Gene Sharp mencontohkan dengan kisah tuan monyet pada pembahasan dari mana saja sumber kekuasaan berasal (h.38). 

Sharp beberapa kali membahas tekanan dunia internasional di berbagai bab. Tekanan yang ia maksud spesifik merujuk pada embargo ekonomi, sanksi politik, pemutusan bantuan atau pengucilan internasional dengan dalih moral, bahkan kemanusiaan. Ia juga bersikukuh bahwa semua tekanan internasional tergantung perlawanan dari dalam, yang lahir dari rakyat. Artinya, tekanan internasional tidak akan pernah terjadi jika rakyat sendiri tidak mampu memberi perlawnan yang melahirkan simpati internasional. 

Sharp selalu mengingatkan bahwa perjuangan melawan diktator jangan sampai didasarkan pada strategi tunggal. Maka tidak mengherankan jika ia mengumpulkan berbagai metode perlawanan nirkekerasan (sebanyak 198 metode) sebagai bukti kesejarahan model perlawanan yang sudah pernah dilakukan umat manusia. 

Karena sifat buku yang sangat praksis, isinya juga dijejali berbagai pertimbangan pemilihan strategi dalam melawan kediktatoran dengan selalu menampilkan kelebihan metode nirkekerasan dibanding metode lainnya (terutama yang menggunakan kekerasan). 

Sharp menganjurkan agar aksi perlawanan pada awalnya harus selektif, baik peserta maupun sasaran aksinya. Tidak semua masyarakat harus ikut. Bidik isu yang menjadi kelemahan diktator. Isu ini jangan sampai salah pilih, harus yang mendasar dan cakupannya luas. Dalam gerakan mahasiswa memprotes besaran dana UKT di Indonesia belakangan ini missal, isu utamanya haruslah hak meraih pendidikan yang berkualitas, jangan malah melenceng pada besaran presentase pemotongan biaya UKT. 

Jelas di sini Sharp menganjurkan untuk mempreteli kekuatan pendukung kediktatoran. Karena begitulah nafas aksi nirkekerasan yaitu, terletak pada penarikan dukungan pada kekuasaan yang menindas. Maka aksi permulaan nirkekerasan harus yang paling kecil resikonya, seperti menaruh bunga di tempat yang bermakna. Jika massa banyak yang bersimpati baru bisa dicoba untuk menggalang beberapa aksi pemogokan (h. 74). 

Menurut saya kata agar massa bersimpati jangan dianggap remeh. Tujuan aksi yang mulia jika diciderai praktik yang tidak membangun simpati—yang paling buruk—atau malah membangun antipasti masyrakat terhadap gerakan aksi, akan menjadi boomerang. Masyarakat akan mengkritik praktik tersebut, bukan pada nilai gerakannya. 

"Biasanya, mustahil memotong sumber-sumber kekuasaan kediktatoran dengan sekali pukul saja pada awal perjuangan. Diperlukan keikutsertaan warga negara dan hampir semua lembaga-lembaga masyarakat yang selama ini tunduk dan patuh untuk menolak rezim secara tegas dan langsung menolaknya dengan cara non-kooperasi massal yang kuat" (h.75). 

Keteguhan massa aksi dalam membulatkan tekadnya melawan kediktatoran menjadi penting. Keteguhan tersebut yang akan membuat mereka terus menjalankan aksi perlawanan dan mencegat mereka dari perasaan putus asa di masa awal perlawanan yang tidak selalu sukses. 

Jika warga negara dipersiapkan sebagaimana layaknya akan menghadapi perang, menerima apapun akibat pembangkangan sebagai harga yang harus dibayar, maka berbagai macam represi tidak akan efektif menumbuhkan kepatuhan pada masyarakat (h.82). 

Hal ini serupa dengan kisah-kisah Ghandi saat menempuh aksi nirkekerasan di Afrika Selatan, saat seseorang sudah menyerahkan diri pada Tuhannya untuk memperjuangkan apa yang ia anggap benar, maka represi apapun tidak akan mengerdilkan semangat dan tekad perjuangannya. 

Maka Menyerang bagian yang paling lemah dari kekuasaan diktator sehingga mau mengalihkan kepeduliannya pada oposisi demokratis menjadi penting. Dalam buku Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan (Crawshaw dan Jackson), kita akan menemui bahwa banyak kisah dari seseorang yang awalnya dianggap tidak memberikan sumbangsih berarti tetapi malah memberi sumbangsih pada penghentian atau pengurangan kekerasan (lihat bagian 14 Kisah Satu Orang). 

Sharp beberapa kali menyebut agar membidik mereka yang biasanya berkeahlian khusus dan memasok keterampilan tertentu. Hilangnya mereka dalam memberi dukungan pada diktator akan berdampak efektif pada pelemahan kekuatan diktator. Menganalisis secara detail struktur maupun aktor individu rezim diktator menjadi hal penting demi tercapainya pelemahan ini. 

Dalam konteks terkini, orang berkeahlian khusus yang dimaksud Sharp mungkin akan menimbulkan banyak profesi disebut. Karena berhubungan dengan penarikan dengan legitimasi dan kooperasi, maka para ahli tersebut bisa saja akademisi professional, bisa ikatan para professor atau ikatan doktor. Selain itu melihat konteks struktur sosial masyarakat yang masih feodal, menarik tokoh agama dan tokoh suku juga masih menjadi hal yang sentral. 

Serangan Abdurrahman wahid pada klaim diktator yang selalu bersifat militeristik langsung menuju ke berbagai dalih dan klaimnya. Meski Mengatasnamakan kesejahteraan dan kebebasan pendapat rakyat, yang terjadi sebaliknya, kediktatoran selalu berujung pada pengingkaran terhadap kehendak rakyat. Gus Dur menyebut hakikat kediktatoran sebagai penolakan terhadap pluralitas pendapat. Gus Dur langsung menyerang akar kediktatoran dalam pengantarnya, dan pendapatnya padat, penuh isi serta sikapnya jelas tanpa kompromi untuk melawan semua bentuk kediktatoran, tidak peduli kedikatatoran tersebut berbaju militer atau sipil. 

Buku ini sangat tepat untuk dipegang kembali setiap pegiat demokrasi yang belakangan turun ke jalan menolak RRU Cipta Kerja. Jika sudah banyak para ahli yang menarik diri dari upaya pemberian legitimasi dan kooporasi tetapi masih belum digubris, sementara pemerintah tanpa pertimbangan yang tepat dan seimbang menimbang pendapat rakyat yag menolak RUU tersebut, maka sifat mileteristik dari rezim diktator patut diwaspadai. Kita tentu sepemahaman dengan Gus Dur, kediktatoran harus dilawan, meskipun berbaju sipil. Pegiat Demokrasi harus membuka ulang buku tipis ini. 



Judul Buku : Menuju Demokrasi Tanpa Kekerasan: Kerangka Konseptual untuk Pembebasan 
Judul Asli : From Dictatorship to Democrazy A Conceptual Framework for Liberation 
Penulis : Gene Sharp 
Penerjemah : Sugeng Bahagijo 
Penerbit : Pustaka Sinar Harapan, INFID dan Lembaga Tjoet Nyak Dien Yogyakarta 
Tahun terbit/Cetakan : 1997/ cetakan pertama 
Halaman : xv+ 103 halaman Peresensi : Ahmad Muqsith

Baca juga tulisan Ahmad Muqsith lainnya: