Membicarakan Pendidikan Kita: Kritik dan Solusinya



Judul
: Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia
Penulis
: Haidar Bagir
Penerbit
: Mizan Pustaka
Cetakan
Cetakan kedua, 2019
Tebal
: 212 halaman
ISBN
: 978-602-441-135-0
Peresensi
: Maulana Malik Ibrahim

“Pikiran bukanlah bejana untuk diisi, tapi api untuk dinyalakan” – Plutrach.

Apa yang membuat manusia bisa berkembang sesuai kemampuannya? Yakni dengan cara menjadi manusia yang benar-benar manusia dari segala aspek. Semua itu bisa diawali dari pendidikan. Dalam konteks bernegara, pemerintahlah yang memiliki wewenang membuat sistem pendidikan terbaik bagi rakyatnya untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Dalam buku ini, Haidar Bagir mencoba mengusik sistem pendidikan yang sudah ‘dianggap mapan’ oleh masyarakat dan pemerintah yakni, sistem/lembaga pendidikian kita yang terwakili oleh sekolah! 

Haidar Bagir menuliskan hal yang mengusik pikirannya, 

“..model sekolah sekarang cenderung menyeragamkan siswa, juga menekan dengan tes-tes terstandarisasi, sehingga menjadikan sekolah tidak menyenangkan dan tidak menggairahkan..” (h. 19).
Ada yang perlu digarisbawahi yakni kata tidak menyenangkan dan tidak menggairahkan. Keduanya berhubungan erat dengan aspek “kebahagiaan dalam belajar”.

Menjangkau Aspek Inti Pendidikan: Imajinasi, Kreativitas, dan Kebahagiaan 

Daya imajinasi adalah unsur penting dalam membentuk pola pikir anak. Ranah inilah yang sudah banyak direnggut oleh sistem pendidikan kita. Mendegradasi imajinasi sama dengan menghambat lajunya kreativitas manusia. Penyeragaman pola pendidikan bagi tiap anak menyebabkan tumpulnya imajinasi mereka. Haidar menuliskan

“Makin imajinatif seseorang, maka kreatiflah dia. Karena kreatifitas melibatkan pikiran-pikiran divergen. Makin imajinatif, makin banyak ruang bagi ekplorasi sedemikian, sehingga peluang menghasilkan pikiran kreatif menjadi lebih besar” (h. 87).

Haidar Bagir memberikan kita solusi untuk meningkatkan imajinasi dan kreatifitas anak dengan cara menciptakan susasana belajar-mengajar yang penuh variasi pengalaman belajar, penyediaan ruang seluas-luasnya untuk mencoba hal-hal baru, serta atmosfer yang menyenangkan dan bebas dari ketakutan mengalami kegagalan, semuanya merupakan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Maka stigmatisasi negatif terhadap imajinasi/khayalan sebagai sumber pengetahuan harus dihilangkan karena dapat menyebabkan manusia kehilangan salah satu daya terhebatnya dalam belajar dan berpikir (h. 88-89).

Adanya imajinasi, kreatifitas dan kenyamanan dalam belajar maka akan muncul ‘kebahagiaan’ yang merupakan aspek penting untuk mendukung kondisi psikologi dan emosi positif anak. Baik anak yang dianggap pintar maupun tidak pintar, kebahgaiaan adalah hal mutlak dalam kesenagan belajar. 

Dan bisa dikatakan bahwa “pintar” tidak selalu menjadi ukuran kesuksesan (yang menjadi tolak ukur sekolah dan masyarakat saat ini). Sistem pendidikan yang menekan psikis dan emosi anak dalam belajar (push parenting atau push teaching), menuntut anak secara berlebihan, membebani anak dengan kegiatan belajar sehingga merampas waktu luang mereka, demi mengejar kepintaran adalah bertentangan dengan cara-cara untuk mengembangkan karakter yang mendukung kebahagiaan (h. 53-55). 

Mengutip Daniel Goldman, Haidar Bagir berpendapat bahwa karakter-karakter kebahaiaan itu meliputi: Self Control (mengelola emosi secara efektif), Trustworthiness (kejujuran dan integritas), Conscientiousness (Keteguhan dan tanggungjawab), Adaptability (Fleksibilitas), dan Innovation (keterbukaan terhadap ide/informasi baru) (h. 55). 

Bahwa kesempatan anak untuk bermain merupakan sarana belajar, dan proses belajar bagi anak tidak hanya terjadi di lembaga pendidikan. Keluarga dan masyarakat adalah ‘sekolah’ lain bagi tumbuh kembang kebahagiaan anak. 

Redefinisi Konsep Lifeskill dalam Sistem Pendidikan Kita 

Era 4.0 menuntut manusia untuk makin meningkatkan kompetensi diri dengan berbagai lifeskill. Pengetian lifeskill di sini tidak sama semata-mata dengan pengertian ‘vokasi/kejuruan’. Namun lebih berdasar kepasa semua aspek kemampuan bagi siswa untuk kelak dapat bertahan dan berkembang dalam masyarakat yang di dalamnya dia hidup (h. 118). 

Haidar Bagis membaginya dalam 5 kompetensi yakni 1) kompetensi personal (akhlak, kepercayaan diri, daya juang, dan lain-lain), 2) kompetensi sosial (keterampilan hidup dalam masyarakat), 3) kompetensi rasional (kemampuan berpikir logis-sistematis, kritis dan problem solving), 4) kompetensi akademik (penguasaan bidang tertentu), dan terkahir 5) kompetensi vokasional (keterampilan teknis dalam bidang tertentu) (h. 119-121). 

Dalam ranah sistem pendidikan, maka lifeskill ini bisa menjadi acuam dalam menentukan kurikulum yang tepat bagi pembangunan manusia dan bangsa. Pembelajaran kontekstual yang tepat dengan mengajarkan anak dengan bahan-bahan ajar yang relevan dengan situasi sehari-hari yang mereka alami (h. 133). Pandangan bahwa pendidikan merupakan sarana untuk mempersiapkan manusia untuk sukses di dunia karier adalah salah satu kesalahan fatal di sistem pendidikan kita. 

Haidar Bagir mengkritisi: “Kesalahan yang benar-benar fatal adalah ketika orang menganggap bahwa, sebagai bengkel atau tempat magang bagi dunia kerja–siswa di sekolah dinilai dengan cara orang menilai karyawan atau calon karyawan di dunia kerja. Jadilah sekolah bukan lagi menjadi tempat belajar… memisah-misahkan siswa yang “baik” dari siswa yang “kurang/tidak baik”. Mediumnya adalah tes-tes yang, sebaliknya dari menilai kemampuan anak (ability test), malah merupakan tes yang mencirikan kekurangan-kekurangan anak (disabillity test) (h.146).

Peran serta masyarakat dalam memperbaiki sistem pendidikan amat diperlukan. Sejurus itu, kritik masyarakat terhadap sistem pendidikan juga harus berani disuarakan. Haidar Bagir telah menyuarakan dengan bahasa yang amat memahamkan bagi pembaca. Buku ini sangat bisa digunakan bagi para praktisi pendidikan, guru, orang tua maupun pengambil kebijakan. Kita semua berharap sistem pendidikan kita menjadi lebih baik bukan?