Krisis Pangan, Penyebab dan Setrategi Mengatasinya


Judul               : Berebut Makan: Politik Baru Pangan
Penulis            : Paul McMahon
Penerbit          : Insist Press
Cetakan           : Cetakan pertama, 2017
Tebal              : viii+370 Halaman
ISBN               : -
Peresensi         : Ahmad Muqsith

Diterbitkkan pada awal 2014, Buku Paul McMahon Feeding Frenzy, The New Politics of Food, dialihbahasakan Insist Pres pada 2017. Buku ini merupakan  peringatan keras sekaligus saran bijak tentang bagaimana dunia harus merespon ketahanan pangan global. Sebagai salah satu dari 17 tujuan SDGs, penghapusan kelaparan telah ditetapkan sebagai tujuan bersama negara-negara di dunia. Tetapi bagaimana mungkin sampai sekarang masih ada obesitas di bagian dunia tertentu, dan kelaparan di bagian dunia lainnya? 

Hubert Humphrey, Politisi Amerika, pada 1957 berpidato, "sebelum orang-orang dapat melakukan sesuatu, mereka perlu makan dulu. Kalau anda ingin agar orang-orang bersandar dan tergantung pada anda, dalam artian mau bekerjasama dengan anda, saya melihat panganlah yang akan sangat menentukan" (H.34).

Secara hati-hati McMahon mencoba buku ini dengan memetakan negara-negara di dunia ke dalam pasar pangan global menjadi lima kategori; negara penguasa bahan pangan (langganan eksportir pangan), negara yang menjadi eksportir baru, negara yang mampu Swasembada, negara kaya yang menjadi importir pangan dan negara miskin yang rawan pangan.

Kondisi Negara-Negara di Pasar Global

Sampai sekarang, Amerika yang penduduknya sebesar 3% berprofesi menjadi petani, mampu menjadi pengekspor kalori terbesar dunia. Sasaran mereka negara-negara miskin Afrika yang ironisnya, 3/4 penduduknya berprofesi sebagai petani (h.53). Hal ini tidak terlepas dari  ketergantungan mereka negara-negara Afrika setelah menerima propaganda Amerika agar membeli pangan impor dengan harga murah, sambil meningkatkan sektor ekonpmi mereka yang punya nilai lebih (comparative advantage). Propaganda yang mengandung kekeliruan ini dibantah secara apik oleh McMahon secara detail di akhir buku.

Sebagai negara yang masuk kategori langganan eksportir, daerah penyumbang 70% seluruh hasil pertanian Brazil berasal dari daerah Cerrado. Awalnya Cerrado merupakan tanah mati, melalui Embrapa (Lembaga penelitian pertanian negara) lahan luas di Cerrado kini disebut The Economist sebagai mukjizat karena produktivitasnya yang tinggi. Hal ini menempatkan Brazil sebagai penantang Amerika dalam kategori negara pengekspor kalori terbesar di dunia, bersama beberapa negara seperti Rusia, Ukraina, Kazakhstan, Vietnam dan Myanmar.

Sementara Tiongkok dan India, dikategorikan sebagai negara yang mampu menyeimbangkan hasil tanaman pangan dengan laju pertumbuhan penduduknya yang tinggi. Keberhasilan pertaniannya dinilai berkat subsidi tinggi pemerintah terhadap benih unggul dan pupuk, serta adanya kredit murah pertanian. Paska perang dunia II Eropa Barat bergantung pangan pada impor Amerika. Baru sejak 1980-an saat Masyarakat Eropa membuat kebijakan pangan bersama yang bertujuan agar setiap negara bisa swasembada, mereka baru berhasil melepaskan diri dari ketergantungan impor (h. 45).

Selera konsumsi suatu masyarakat juga berpengaruh pada swasembada pangan nasionalnya. Misal, saat konsumsi daging Tiongkok meningkat, pemerintah Tiongkok mengembangkan ternak babi dan ayam, pola makan daging rakyatnya berdampak pada ketersedian bahan pangan. Petani tidak mampu mencukupi kebutuhan biji-bijian untuk pakan ternak, sehingga pemenuhan kebutuhan biji-bijian yang banyak menggoncang pasar pangan global. (h. 65). Besarnya populasi Tiongkok, membuat perubahan komoditi pangan yang mereka alami berimbas ke ketersediaan di pasar pangan global.

Krisis Pangan dan Bahan Bakar Hayati

Jean Ziegler, pelapor khusus tentang pangan dari PBB, menyebut dukungan bagi bahan bakar hayati sebagai tindakan kejahatan melawan kemanusiaan. Hal ini dipicu peralihan peruntukan panen jagung Amerika yang dijadikan bahan pembuatan ethanol. Padahal produksi masal jagung sendiri membutuhkan bahan bakar yang juga tidak sedikit. Hal ini juga harus dilihat dalam konstelasi embargo OPEC yang tidak mau menjual minyaknya terhadap Amerika.

Padahal dalam sekala umum untuk satu kalori bahan pangan, setidaknya membutuhkan 7 kalori minyak bumi dalam proses produksi ethanol. Komite Keamanan Pangan dunia, menilai bahwa sama sekali tidak padu bagi pemerintah untuk menyediakan dukungan produksi luar biasa bagi bahan bakar hayati jika di sisi lain malah mengurangi subsidi pertanian lainnya (h. 70). 

Sama seperti Tiongkok, kebijiakan pangan apa saja di Amerika akan berimbas di pasar gelobal, terutama produksi jagung dimana mereka salah satu penghasil terbesarnya. Kenaikan permintaan akan pangan, konversi bahan bakar hayati, cuaca ekstrim dan kendala alam lainnya adalah sumber-sumber mendasar terciptanya krisis pangan dunia. 

Pangan dalam Bingkai Malthusian

Thomas Robert Kaligis beranggapan bahwa "Kekuatan jumlah penduduk sangat berkuasa lebih dibanding kekuatan bumi menghasilkan pangan yang cukup bagi manusia untuk bertahan hidup". Pada 1970-an Malthusian ekstrim menyerukan Inggris dan Amerika untuk tidak memberi bantuan pangan pada India dan Irlandia. Kelaparan dianggap mereka sebagai pelandaian pertumbuhan jumlah penduduk yang alami, sehingga mampu membatasi deret ukur pertumbuhan alamiah.

Pandangan Malthusian kemudian mendapat jawaban ilmiah dari Austria, melalui kumpulan doktor di International Institute for applied System Analysis (IIASA). Mereka mendata seluruh tanah di bumi, melaporkan bahwa banyak tanah subur di Afrika yang belum digarap dan menyimpulkan krisis pangan bisa ditanggulangi jika produktifitas petani afrika ditingkatkan.

Sementara kelaparan di negara miskin lebih disebabkan gagalnya sistem pertanian mencapai produktifitas tinggi, petani yang tidak mampu mendapat penghasilan layak, gagalnya pengintegrasian daur sistem pertanian desa dengan pertumbuhan industri perkotaan. McMahon menjelaskan bahwa kegagalan di Afrika bukan karena faktor bio-fisika, melainkan kegagalan sistem sosial-ekonomi-politik. Perasana parah, akses pasar, akses pada sumber keuangan dan teknologi, serta pemerintah yang tidak mengabdi pada kepentingan kawasan miskin pedesaan (h.98).

Hal yang mengagetkan terkait sistem pertanian berkelanjutan dan perubahan iklim adalah, pertanian menyumbang 13% pelepasan gas-gas rumah kaca. sumbangan terbesar dari penguapan pupuk nitrogen yang menghasilkan nitro oksida yang 400 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida. Kemudian sumbangan dari gas metan  kotoran ternak (110).

Perusahaan Multi Nasional dalam Pasar Pangan Global

McMahon, secara serius memberi porsi khusus dalam bukunya mengenai pasar global yang melibatkan sepekulan dan perusahaan multi nasioanal dalam sistem rantai pasar pangan. Pertama dia membagi pasar menjadi dua. Pasar fisik, dimana komoditi senyatanya disalurkan dan diperjualbelikan, lalu ada pasar maya yang lebih mengurusi surat berharga pembelian-penjualan komoditi pada satu waktu tertentu di massa depan. 

Pasar kedua, disebut bisa merusak harga-harga komoditas, meski petinggi bursa menyangkal dengan riset yang diajukan. McMahon kemudian membandingkan riset-riset yang menopang dua argumen yang bertentangan. Ini hampir menjadi seluruh gaya penulisannya di dalam buku ini, memberi argumen berbasis riset, kemudian menjernihkan kita dengan riset lain yang keberpihakannya pada ketahanan pasar pangan global.

Pasar maya telah menghidupi beberapa perusahan multinasional di Eropa dan Amerika. Dua dekade terakhir perusahan serupa muncul di Asia. Persaingan yang diharap mampu mencegah monopoli (dalam mitos perfect competition ala pasar bebas), malah melahirkan penguasaan baru terhadap sistem mata rantai pangan dari produksi sampai ke konsumen akhir. Hal ini membuat kemungkinan bahwa perusahaan bisa mengatur harga, mempengaruhi pejabat publik dengan suap, serta menyulitkan rantai pasokan makanan saat krisis pangan sedang berlangsung.

Demi mengamankan pasokan rantai produksi-konsumsi pangan, perusahaan multi nasional melakukan pencaplokan lahan besar-besaran. Negara tujuan dari modal asing pencaplokan lahan, mayoritas negara miskin rawan pangan yang dikelola pemerintah korup. Ada Ethiopia, Madagaskar, mozambiq, Tanzania, Sierra Leone dan Liberia. Beberapa perusahaan membatalkan perjanjian dengan pemerintah saat penduduk lokal yang tersingkir bersama aktifis lingkungan melakukan perlawanan terus menerus. Perusahaan lain membatalkan karena rugi yang disebabkan kendala teknis.

Peningkatan jumlah penduduk dan berbagai permasalahan lain yang memicu krisis pangan, mendorong tren baru kebijakan luar negeri pangan negara berkembang. Tiongkok menjelajahi berbagai negara menawarkan dana segar dengan imbalan mendapat pasokan bahan mentah, terutama pangan. Negara lain mengamankan jatah stok pangan dengan melarang ekspor. Hal ini semakin mengurangi volume komoditi pangan di pasar bebas global. Negara yang tidak punya stok pangan cukup, tidak punya perjanjian khusus dengan negara penghasil pangan akan kesulitan mendapat suplai pangan, tidak peduli meski mereka punya cukup uang untuk membeli.

Sampai 2050, proyeksi 5 kategori pasar pangan global tadi dijabarkan dengan teliti oleh McMahon bagaimana perkembangannya. Gambaran ini kemudian ia lengkapi dengan saran-saran untuk memperbaiki sistem pangan global di bab terakhir. Pertama, membantu petani kecil di negara berkembang, meletakan pendekatan ekologis di pusat sistem pangan, membuat pasar keuangan bekerja untuk ketahanan pangan, kemampuan beradaptasi pada gejolak harga serta mendorong perekonomian berdasarkan kehayatian bumi (eco based economy).

Secara keseluruhan buku ini menyediakan pertimbangan kebijakan hati-hati bagi setiap negara dalam masalah ketahanan pangan. Dilengkapi dengan perkembangan sejarah dan analisis ekonometri, tata letak tulisan dalam buku yang tidak rata kanan dan tidak mengenakkan saat dibaca ini menjadi bisa tertutupi. Buku ini meramal apa yang terjadi 2050 nanti, dan ulasan ini baiknya dibaca lagi saat 2050 telah tiba agar bijak menghakimi McMahon.