Islam Revisionis: Apakah Anti-Kritik?

Judul                : Islam Revisionis
Penulis             : Mun’im Sirry
Penerbit           : Suka Press
Cetakan           : Pertama
Tebal               : 278 Hal
ISBN               : 978-6021-326-657
Peresensi         : Nur Ahmad (Dosen UIN Walisongo)

Pertanyaan yang muncul bagi pembaca pada umumnya ketika membaca judul “Islam Revisionis” adalah “apa maksudnya?”. Barangkali dalam benak awam jawaban yang diberikan adalah “penulisnya adalah orang yang berusaha merevisi ajaran-ajaran agama Islam”. Lalu mengapa ajaran-ajaran agama perlu dipahami ulang sehingga nantinya diperbolehkan diganti sebagian unsurnya?

Apakah dia sudah tidak sesuai dengan perkembangan dunia saat ini? Atau sepanjang sejarah kita terus sedikit demi sedikit melakukan kesalahan pemahaman terhadap ajaran Islam sehingga sekarang ini kita sudah keluar dari jalur yang benar? Dengan judul yang cukup asing ditelinga kaum awam buku ini secara “sempurna” sejak halaman judul menarik perhatian mereka.

Tidak semua pertanyaan dan pernyataan di atas layak diiyakan. Jawaban terhadap pertanyaan pertama diberikan penulis dalam pengantarnya. Islam revisionis adalah “model kesarjanaan yang mempersoalkan asumsi-asumsi dan kesimpulan lama tentang Islam…(hlm. vii)”. Islam yang banyak “memprotes” kesimpulan-kesimpulan yang diyakini oleh banyak umat Islam kini. Mungkin, secara guyon, Islam jenis ini dapat disebut dengan “Islam Protestan”.

Buku ini tidak sekedar menawarkan alasan mengapa sebagian keyakinan umat Islam dewasa kini perlu ditinjau kembali. Tetapi, ia juga dipenuhi dengan beragam contoh kongkret bagaimana umat Islam masa lalu juga melakukan tinjauan-tinjauan yang sama mengenai keyakinan mereka sendiri. Dengan kata lain, buku ini sebenarnya bertujuan untuk menghidupkan kembali kehidupan pemikiran yang kritis dalam tubuh umat Islam yang disinyalir oleh penulisnya telah lama melemah kualitasnya (hlm. ix).

Sebelum beranjak ke contoh-contoh kajiannya, sangat penting dipertimbangkan pendekatan yang penulis gunakan. Meskipun secara sekilas penulis berusaha menghidupkan intelektualitas umat Muslim, cara yang penulis gunakan sangatlah berbeda dari ulama-ulama klasik pada umumnya. Hal yang sangat mencolok adalah sikap skeptis penulis terhadap otentisitas kesejarahan sumber-sumber tradisional Islam, terutama untuk masa awal pembentukan Islam. “Historicism” menjadi landasan utamanya. Suatu sumber sejarah yang otentik adalah yang ditulis semasa dengan kejadian yang disajikannya. Semua sumber-sumber tradisional Islam tentang masa awal Islam ditulis dua atau tiga abad setelah kejadian yang dirujuk tersebut terjadi. Artinya, menurut penulis, ia tidak valid untuk menjadi saksi sejarah.

Hal ini berbeda dengan sikap dari para ulama klasik Islam. Meskipun mereka mengetahui bahwa sumber-sumber tersebut ditulis beberapa ratus tahun setelahnya, secara keyakinan dan logika keagamaan yang kuat maka dengan sadar mereka mempercayai sumber-sumber itu. Hal ini tentu dilakukan tidak secara a priori namun mereka telah melakukan seleksi ketat dengan pendekatan yang mereka tetapkan.

Bagi saya pribadi, hasil dari usaha penulis adalah nomor dua setelah ajakan untuk berpikir kritis itu sendiri. Ambil sebagai contoh kajian penulis tentang siapa yang sebenarnya disembelih dalam peristiwa yang diabadikan dalam hari raya Idul Adha (hlm. 109-111). Dengan sedikit usaha mencari rujukan utama yang disinggung dalam tulisan itu, saya akhirnya menemukan teks utamanya dan menjadi cukup yakin bahwa dialektika mengenai Ishak dan Ismail itu ada.

Meski demikian perlu disebutkan juga kesesatan berpikir (fallacy) dalam tulisan-tulisan dalam buku ini. Ambil sebagai misal ketika penulis menganalisa sejarah perkembangan ritual Islam (hlm. 21-25). Dalam awal tulisannya penulis menyatakan bahwa umat Islam meyakini bahwa berbagai ritual Islam itu telah permanen bentuknya sejak masa Nabi saw. Hal ini lebih mirip dengan kesesatan berpikir yang disebut “keliru merepresentasikan posisi dari lawan diskusi” atau “imputing a fictitious standpoint to the opponent” (Eemeren, 1992, hlm. 126–127).

Dengan cakupan seluas itu, umat Muslim, penulis membuat sebuah kesimpulan yang fiksional mengenai keyakinan keseluruhan mereka soal ritual. Pernyataan di atas dengan mudah dibantah melalui keberadaan kitab-kitab sejarah perkembangan penetapan syariat Islam yang dipelajari di kelas madrasah aliyah di negeri ini yaitu dalam mata pelajaran tārīkh at-tasyrī‘, “sejarah penetapan syariat”.

Sesuatu yang sulit dipahami juga adalah sikap penulis terhadap mereka yang membaca tulisannya. Pada pembukaan buku ini, penulis menyebutkan bahwa tulisan dalam buku ini berusaha “menawarkan perspektif baru” mengenai hal-hal yang stagnan dalam Islam (hlm. xi). Lebih lanjut, sebagai penekanannya sebagai tulisan stimulatif, penulis menyatakan bahwa pendapatnya bukanlah suara yang wajib diyakini sebagai dikte (hlm. xii).

Namun pada sebagian tulisannya penulis bersikap menghindari diskusi lanjutan. Dengan berusaha menghindari keraguan dari pembacanya, penulis menyatakan “jika masih ada yang memunculkan penolakan konsep maslahah dalam konteks LGBT, itu namanya ngeyel.” (hlm. 117). Penulis tentu tahu bahwa posisinya sebagai akademisi revisionis meniscayakan munculnya “perbincangan intelektual yang konstruktif” yang tentunya mengandung dua unsur utama, yaitu penolakan dan penerimaan. Apa yang dilakukan penulis itu termasuk dalam kesesatan berpikir “menghindari tugas untuk memberikan bukti dan mempertahankan argumen” atau disebut dengan “evading the burden of proof” (Eemeren, 1992, hlm. 117–120).

Betapa pun, bagi saya, kekeliruan itu tidak mengurangi bahwa buku ini layak dinikmati sebagai karya yang membuat kita berpikir lebih dalam. Tujuan awal dari buku ini, agar munculnya dialektika berpikir, bagi saya, lebih penting diperhatikan daripada kesimpulan-kesimpulan sementara yang dihasilkannya. Sebagai seorang yang keyakinannya banyak bertolak-belakang dengan kesimpulan-kesimpulan dari penulis, saya mengakui bahwa pembacaan buku ini cukup penting untuk menguji keyakinan kita sendiri tentang pemahaman kita tentang Islam.

Sumber : Booqoe.com