Minerva Foundation

Baca Apa yang Ingin Kamu Baca

Terbaru

Thursday, February 28, 2019

Identitas dan Kebebasan


Judul : Kekerasan dan Identitas
Penulis : Amartya Sen
Penerjemah : Arif Susanto
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun terbit : 2016, edisi kedua
Jumlah halaman : xxii + 242 hlm
Peresensi                : Achmad Agung Prayoga

Kita sedang menyaksikan bagaimana negara ini masih seabrek carut – marut problem yang belum terselesaikan. Satu yang mencolok adalah soal sulitnya memahami bahwa Ali adalah penggemar martabak, seperti Bertha yang juga menggemarinya. Oleh sebab itu, beberapa kali mereka makan bersama dan saling mentraktir.

Mereka melakukannya setelah Ali selesai salat, dan di hari ketika Bertha tidak beribadat di gereja. Satu hari, Ali mendapati larangan untuk makan martabak bersama Bertha karena satu sama lain tidak sepaham soal minimarket mana yang lebih komplit: yang biru atau merah. Satu hal yang Amartya Sen sesalkan dan mendorongnya menulis Identity and Violence: The Illusion of Destiny atau Kekerasan dan Identitas.

Persoalan sesungguhnya tentu tak sekonyol pengandaian di atas— atau bahkan sebaliknya, tergantung bagaimana cara kita melihat. Buku ini sangat bertautan dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia dan bisa menjadi bahan untuk melihat persoalan ini lebih jauh. Di mana separatisme berdasarkan agama dan preferensi politik terasa begitu menakutkan.

Seperti judulnya, buku ini membawa narasi besar soal identitas manusia dan bagaimana identitas itu menjadi hal yang benar-benar membutuhkan perhatian. Buku ini ditulis dalam sembilan bab dengan pokok bahasan yang tidak jauh dari konsep identitas sebagai ilusi hingga kaitannya dengan sejarah.
Bagaimana Sesungguhnya?

Sen membantah konsep ‘benturan antar peradaban’ yang ditulis Samuel Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations and the Remaking of the World Order; dimana Huntington mengelompokkan manusia ke dalam ‘Peradaban Islam’, ‘Peradaban Budha’, ‘Peradaban Hindu’, dan sebagainya. Klasifikasi tunggal itu—sekaligus sebagai bentuk pengerdilan— adalah kelemahan tesis Huntington.

Ia juga menyampaikan, bahwa manusia memiliki beragam identitas yang tak bisa dipaksakan menjadi satu. Ada dua konsep yang menjadi pokok: pengabaian identitas dan afiliasi tunggal. 

Yang pertama menempatkan manusia hanya sebagai makhluk individualistik dan tanpa memiliki ragam motivasi sebagaimana yang seharusnya. Ini berkaitan erat dengan bagaimana manusia hidup sebagai makhluk ekonomi sekaligus sosial.

Lalu konsep kedua yang mengabaikan beragam pertalian identitas hanya untuk satu pertalian identitas. Padahal seseorang, di saat yang sama, dapat menyatakan diri sebagai warga negara Indonesia, seorang Nahdliyyin, penggemar literatur kontemporer Vanuatu, seorang pegawai sipil, pemilik toko kelontong, dan seorang penggemar berat mi instan.

Keberagaman identitas ini merupakan contoh yang bisa dimiliki oleh seseorang. Dan tentunya, meski tiap pertalian juga menuntut pertimbangan prioritas, masing-masing pertalian identitas yang ada tidak bisa direduksi menjadi satu pertalian identitas.

Masa kolonialisme juga berperan terhadap permasalahan ini. Ketika bangsa Barat menjadikan banyak bangsa Timur sebagai jajahan, mereka tak hanya menggilas kemerdekaan politik namun juga menciptakan iklim sikap obsesi jajahan terhadap jajahannya, baik itu kekaguman maupun kebencian.

James Mill, penulis The History of British India, dalam bukunya tersebut melakukan penghinaan terhadap bangsa India; ia menyebut India sebagai ‘peradaban inferior’ dengan menafikan pencapaian bangsa India dalam berbagai hal.

Penghinaan ini memunculkan anggapan bahwa Barat lebih baik dari Timur, sehingga banyak dari bangsa terjajah merasa perlu untuk menggaungkan semangat anti-Barat dan mulai menilik kepada hal lain yang dirasa mengungguli apa yang selama ini Barat miliki.

Seperti spiritualitas. Pemikiran ini justru, secara tidak langsung, mengamini apa yang para kolonialis Barat seperti James Mill pikir, tetapi juga mengabaikan bahwa selama ini, sepanjang sejarah, Barat dan Timur selalu terhubung dan saling ‘berbagi pundak’ untuk kemajuan umat manusia.

Pentingnya Kebebasan

Dunia ini telah berubah sedemikian rupa sebab interaksi manusia yang terjadi secara global. Tidaklah mungkin untuk melihat seseorang hanya dengan satu kacamata. Model multikulturalisme yang ada saat ini, yang lebih tepat disebut monokulturalisme majemuk telah membatasi tiap kelompok identitas, terpisah satu sama lain.

Seperti Inggris, Indonesia saat ini mengalami hal serupa, di mana tiap agama memiliki masing-masing institusi pendidikannya. Mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Sen mengatakan bahwa hal ini bermasalah, lebih-lebih terhadap anak-anak yang belum mencapai tahap berpikir cemerlang.

Pembagian institusi ini sangat dikhawatirkan membatasi interaksi plural sehingga mempersempit pandangan tentang identitas. Dan ini akan berdampak pada munculnya gerakan ekstremis dan fundamentalis yang akhir-akhir ini sedang menggeliat di seluruh dunia.

Sen juga berkata bahwa apa yang selama ini disebut sebagai ‘dialog antar-umat’ ternyata hanya semakin memperlebar dan menegaskan bentuk pengerdilan yang ada. Bentuk pengerdilan identitas ini tentu merugikan masyarakat dunia. Olehnya muncul berbagai tindak kekerasan di berbagai belahan dunia yang didasarkan atas fanatisme buta akan satu macam identitas.

Mempertimbangkan bahwa setiap manusia pada hakikatnya bertalian dalam banyak hal sangat diperlukan untuk mewujudkan masyarakat dunia yang damai, memastikan bahwa benak kita tak terkurung oleh cakrawala pandang kita sendiri.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad