Minerva Foundation

Baca Apa yang Ingin Kamu Baca

Terbaru

Saturday, January 12, 2019

Pendidikan yang Membahagiakan Adalah Kunci Sukses

Judul : Teach Like Finland (Mengajar seperti Finlandia)
Editor : Adinto F. Susanto
Alih Bahasa : Fransiskus Wicakso
Penulis : Timothy D. Walker
 Penerbit : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Cetakan : 2017
Peresensi : Ahmad Sajidin

Buku Teach Like Finland ditulis oleh Timothy D. Walker,  seorang guru yang banyak menulis pengalaman mengajarnya di berbagai media, antara lain Education Week Teacher, Educational Leadership. Dan juga melalui blognya, yaitu Taught by Finland. Dia juga menjadi kontributor bidang pendidikan di The Atlantic.

Timothy D. Walker adalah  Seorang Amerika yang dulunya sangat tidak menikmati profesinya sebagai Guru kelas di Arlington, Massachusetts. Hari-harinya selalu dibayang-bayangi dengan persiapan program pembelajaran –dalam kurikulum pendidikan Indonesia disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran-  dan evaluasi selama proses pembelajaran berlangsung. Hari-harinya sangat sibuk kerja sebagai guru dimulai dari pagi sampai malam hari.

Bagi Tim saat itu, kualitas guru dapat dilihat melalui seberapa banyak dia menghabiskan waktunya untuk bekerja sebagai guru. Pandangan tersebut pada awalnya masih dipertahankan Tim ketika baru pindah ke Finlandia bersama istrinya Johanna, yaitu di Helsinki.

Namun dia langsung heran ketika berada di Helsinki dan Finlandia pada umumnya tentang model pendidikan yang ada disana. Mulai dari jam belajarnya yang singkat, tidak dibebani Pekerjaan Rumah (PR) pada setiap muridnya dan model belajar yang banyak aspek bermain serta istirahat dalam setiap mata pelajaran.

“Di Helsinki, saya menyaksikan istirahat yang sering setiap hari, dan biasanya teman-teman guru menghabiskan waktu istirahat di tempat rehat guru” (Hlm. 2).

Sebelum tahu hasilnya, dia bahkan berfikir apa yang akan dihasilkan dari model pembelajaran seperti ini? Yang setiap harinya banyak istirahat dan bermain.

Jadwal istirahat digunakan untuk refreshing otak dan pemfokusan kembali, karena sejatinya otak juga perlu istirahat untuk tetap fokus. Selain itu istirahat juga berfungsi untuk memenuhi kesejahteraan murid berupa kebahagiaan, dengan dibebaskan bermain dan bersosialisasi kepada teman-temanya setiap jam istirahat per pelajaran.

“Seorang peneliti dan ahli kinesiologi berkebangsaan Amerika telah meneliti model ini untuk diterapkan di Amerika dan hasilnya menjanjikan. Para pendidik di Sekolah Dasar eagle mountain, Texas. Melaporkan suatu perubahan yang signifikan dalam diri para siswa yang mendapatkan 4 kali istirahat 15 menit setiap hari ; sebagai contoh, mereka menjadi lebih fokus, jarang mengeluh lagi. Seorang guru kelas satu bahkan melihat siswanya berhenti mengunyah-ngunyah pensil” (Hlm. 8).

“Penelitian yang dilakukan dari dekade demi dekade telah menunjukkan bahwa kebahagiaan bukanlah hasil dari kesuksesan namun kunci kesuksesan. Dengan kata lain, jika anda ingin sukses, anda harus bahagia” (Hlm. 5).

Pada prinsipnya seorang guru/pendidik adalah seorang fasilitator bagi peserta didik. Bagaimana seorang pendidik mampu mengantarkan peserta didik untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

Hal ini sesuai dengan asal kata dari paedagogik yang berasal dari bahasa yunani, yaitu paeda yang berarti pendidik  dan agogos anak didik yang dalam sejarah yunani paeda selalu melayani agogos dalam proses belajarnya. Keterangan ini saya dapatkan di buku Pengantar Pendidikan.

Sebagai fasilitator, mengenal setiap anak dikelas yang kita ajar merupakan salah satu strategi untuk membuat anak didik kita bisa nyaman dan mempunyai rasa dimiliki dari setiap anak didik. Sehingga dalam pembelajaran tak ada kesan terpaksa dan semua murid merasa menikmati pembelajaran.

“Sebelum anak-anak naik ke kelas lima, mereka didampingi guru kelas yang sama selama empat tahun –kelas satu hingga kelas empat. Dan saya dapat melihat di awal tahun ajaran baru, bahwa ikatan mereka dengan guru kelas sangat kuat” (Hlm. 46).

“Satu praktek, dengan tegak berdiri di depan pintu dan menyapa nama mereka satu per satu saat memasuki kelas. Saya pribadi lebih suka first bumps, jabat tangan atau high fives. Beberapa murid di Helsinki saya kadang bercanda, berusaha mengendap melewati saya tanpa menyapa –dan itu menjadi guyonan diantara kami. Rutinitas ini adalah sesuatu yang dapat menjadi peluang guru untuk mengenal setiap siswa, memberi pesan bahwa  kita melihat mereka secara individual, bukan sekadar sekumpulan anak” (Hlm 47).

“Praktek sederhana ini adalah beberapa cara untuk memperdalam hubungan guru-murid. Saya percaya bahwa guru yang berkomitmen untuk mengenal murid-murid mereka suka tidak suka akan mengembangkan metode (seperti yang sudah saya sebutkan) untuk mengenal murid dengan lebih baik, yang pada akhirnya akan membentuk rasa dimiliki dari setiap siswa –dan konsekuensinya, seluruh kebahagiaan di kelas mereka” (Hlm. 49)

Salah satu fungsi dari lembaga pendidikan adalah membentuk kompetensi siswa untuk mecapai kebahagiaan. Salah satu dasar untuk mencapai kebahagiaan sebagai kaum terdidik adalah mempunyai kemampuan untuk memberi manfaat kepada manusia lainnya.

Maka lembaga pendidikan juga harus membuat suatu konsep terukur untuk membekali siswanya dalam rangka pemenuhan dan pembekalan kompetensi diri. Dalam buku ini juga dituliskan strategi pendidikan di finlandia dalam upayanya untuk menggali dan mengembangkan potensi siswa mereka.

“Untuk menjadi bahagia, salah satu hal mendasar yang harus kita miliki adalah perasaan kompeten
dalam suatu area tertentu seperti memahat, koding atau menulis. Raj Raghunatan (2016) mengatakan penguasaan akan suatu hal adalah kebutuhan kita. Sebagai guru kita dapat menanamkan kegembiraan ke dalam kelas kita jika kita mampu memenuhi kebutuhan atas suatu keahlian” (Hlm. 99).

“Dengan pengalaman mengajar di Helsinki dan kunjungan ke sekolah-sekolah di seluruh penjuru Finlandia, saya telah mengumpulkan beberapa strategi pengelolaan kelas untuk mengembangkan penguasaan, yang terinspirasi dari para pendidik Finlandia:  ajarkan hal-hal mendasar, gunakan teknologi, berikan pendampingan , buktikan pembelajarn dan diskusikan soal nilai” (Hlm. 100).

Barangkali para pembaca penasaran bagaimana penjelasan dari strategi tentang penguasaan, bisa segera untuk membaca bab 4 dari buku ini. Buku tersebut menggambarkan bahwa untuk mencapai idealnya proses pendidikan harus dimulai dari kesadaran berbenah diri. Khususnya para pemangku kebijakan yang berwenang mengatur sistem.

Lewat buku ini pembaca akan mengetahui potret pendidikan Finlandia sebagai pendidikan terbaik di dunia dari tahun 2000 hingga sekarang berdasarkan hasil Programme of International Student Assesment  (PISA) . Dibalik kesuksesan itu ada faktor strategi guru dalam mengajar agar siswa bisa maksimal dalam melaksakan pendidikan untuk mengembangkan potensi dirinya.

Sedikit kekurangan buku ini, karena merupakan buku terjemahan, jadi banyak ditemukan kosakata yang kadang tidak sesuai serta banyaknya salah ketik membuat pembaca harus teliti untuk menentukan kira-kira apa yang sebenarnya dimaksud dari kata yang salah ketik tersebut.

Namun dari segi substansi, pendidikan di Finlandia bisa menjadi kiblat dalam hal penerapan sistem dan kebijakan yang tepat di manapun. Bahwa pendidikan harus dipisahkan dengan kepentingan-kepentingan politik yang berbasis pada kepentingan pemodal yang menguasai sektor ekonomi  dan monopoli lembaga pendidikan lewat ijazah. Sehingga pendidikan benar-benar menjadi alat pembebasan bagi setiap anak.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad