Minerva Foundation

Baca Apa yang Ingin Kamu Baca

Terbaru

Friday, November 9, 2018

Revolusi Ekologis; Seruan untuk Melawan Ekonomi Kapitalisme



Judul                           : Lingkungan Hidup dan Kapitalisme; Sebuah Pengantar

Judul Asli                    : What Every Environmentalist Needs to Know about Capitalism; A Citizen’t Guide to Capitalism and the Environment

Pengarang                   : Fred Magdoff dan John Bellamy Foster

Alih Bahasa                 : Pius Ginting

Penerbit                       : Marjin Kiri

Cetakan                       : pertama, Agustus 2018

Jumlah halaman           : xiv + 188 halaman

ISBN                           : 978-979-1260-80-0

Peresensi                  : Zakiyatur Rosidah


“Menyelesaikan krisis ekologi tentu bertentangan dengan kapitalisme. Kita harus membangun sebuah gerakan yang bekerja melawan logika kapitalis dengan tujuan untuk mengatasi problem ekologis demi terciptanya kehidupan masyarakat berkelanjutan dan egaliter. Pun merawat bumi sembari terus berusaha mengembangkan kapasitas individual dan sosial serta kebebasan secara umum.” 
Ini adalah sebentuk pernyataan yang secara pesuasif disodorkan oleh Fred Magdoff dan John Bellamy Foster dalam buku Lingkungan Hidup dan Kapitalisme; Sebuah Pengantar.

Sesuai dengan apa yang dituliskan kedua pengarang pegiat isu ekologi dalam pengantarnya, buku lingkungan Hidup dan Kapitalisme; Sebuah Pengantar ini bermula dari diskusi bersama orang-orang yang khawatir dengan degradasi lingkungan yang berlangsung massif di sekitarnya; polusi udara, tanah, air, dan kehidupan itu sendiri; pemanasan global dan perubahan iklim; pengurasan sumber daya alam.

Pemanasan Global dan Batas-Batas Planet

Mari kita tengok sejauh mana krisis ekologi skala planet terjadi. Mungkin informasi ini tidaklah baru bagi pembaca, namun seyogianya realitas ini dihadirkan berulang-ulang di daerah yang kita huni; daerah yang sangat mudah untuk melupakan, menindas, bahkan bingung mengenai situasi di mana kita menemukan diri kita.

Komunitas-komunitas ilmiah berada pada konsensus yang luas mengenai esensi pemanasan global: terjadinya perubahan iklim yang semakin parah karena aktivitas manusia sebentuk gas rumah kaca yang menjadi ancaman tersendiri bagi stabilitas ekosfer global. Tidak ada badan ilmiah yang menentang ini. Kenyataanya masih ada perdebatan panjang dalam komunitas ilmiah atas pertanyaan tersebut dan menunjukkan bahwa konsensus tersebut harus dipercaya sepenuhnya.

Tidak hanya menyoal pemanasan global dan perubahan iklim, Magdoff dan Foster sangat gamblang menjelaskan bahwa krisis ekologi berkaitan dengan konsep ‘batas-batas planet’. Dalam pandangan ini, terdapat setidaknya sembilan ambang batas kritis dari sistem planet yang telah ditetapkan di antaranya perubahan iklim, pengasaman air laut, penipisan ozon di stratosfer, batas aliran biogeokimia, penggunaan air bersih global, perubahan pemanfaatan lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, pelepasan aerosol ke atmosfer, dan polusi kimia.

Tak bisa dipungkiri bahwa ekologi bumi –termasuk sistem dukung kehidupan yang menjadi tempat bergantungnya manusia dan spesies lain– sedang berada di bawah serangan serius dan terus menerus karena aktivitas manusia. Namun yang lebih penting adalah krisis lingkungan yang sifatnya kompleks, multifaset, dan semakin cepat pada skala planet ini dapat pula ditelusuri pada satu penyebab sistemik: tatanan sosial-ekonomi tempat kita hidup.

Menurut Rachel Carson, penyebab utama kerusakan ekologis adalah masyarakat yang memuja dewa-dewa kuantitas dan kecepatan, laba yang mudah dan cepat didapat, dan dari berhala mengerikan ini bangkitlah setan-setan mengerikan. Magdoff dan Foster pun mengamininya: kapitalismelah penyebab yang sebenarnya.

Solusi yang Tidak Tepat

Mari kita menilik beberapa diagnosis dan solusi yang diusulkan oleh pihak yang tidak berusaha lepas dari kerangka kapitalis dalam buku terbitan Marjin Kiri ini. Dalam Environment, Capitalims, and Socialism (1999), Dick Nichols mengidentifikasi tiga argumen yang paling menonjol dalam perdebatan kontemporer mengenai akar penyebab perubahan iklim, di antaranya pertumbuhan penduduk, konsumsi berlebihan, dan teknologi.

Pertumbuhan populasi tidak dapat diperiksa terlepas dari sistem ekonomi di mana ia muncul. Contohnya, jika pertumbuhan populasi dihentikan di seluruh dunia, ini akan menimbulkan masalah yang serius bagi perekonomian. “selalu mencari pasar baru untuk barang-barangnya dan membutuhkan ekspansi yang terus-menerus.” (hal. 31). Sayangnya, argumen populasi digunakan begitu sering untuk tujuan rasis dan nasionalistik, yang ditujukan guna ‘melestarikan cara hidup kita’.

Argumen konsumsi yang berlebihan gagal membuktikan asumsi bahwa kebiasaan konsumsi orang-orang lahir dari struktur masyarakat, tetapi justru merupakan hasil dari model bisnis yang didorong laba yang mengharuskan orang untuk mengonsumsi lebih banyak untuk memperluas pasar komoditas.

Menyoal teknologi yang bertujuan untuk memuaskan pertumbuhan, kapitalisme cenderung memilih teknologi yang memaksimalkan asupan sumber daya dan energi secara komprehensif demi menggenjot keluaran ekonomi secara keseluruhan. Pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin teknologi berfungsi jika pengembangan dan penerapannya tidak didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan?

Kenaifan serupa, entah disengaja atau tidak, ditemukan di sebagian besar solusi yang ditawarkan oleh pemerintah, pelobi, pembuat kebijakan, dan media massa tertentu. Teknologi dan energi terbarukan sudah barang tentu berada di daftar paling atas, namun kemudian ada banyak solusi lain yang ditawarkan, misalnya eko-konsumerisme, pengalihan karbon, pajak karbon, perdagangan karbon, dan energi terbarukan.

Gagasan umum di balik ini adalah kemungkinan kapitalisme yang menginternalisasi biaya sosial dan lingkungan yang tidak dibayar dari produksi. Argumennya adalah bahwa jika harga ditetapkan secara akurat untuk mencerminkan biaya sosial dan lingkungan yang sebenarnya dari suatu industri, maka industri akan melihat untuk mengurangi biaya-biaya tersebut agar bisa bersaing.

Memiliki sistem ekonomi kapitalis yang tidak tumbuh, mungkinkah?

Ada poin yang menarik dalam buku bergenre sosial-politik ekologi ini yaitu tidak cukup hanya mengurangi emisi dan menciptakan energi terbarukan secepat mungkin. Jika kita ingin menghindari ambang batas kritis dari sistem planet yag telah disebutkan di atas, satu perubahan besar dengan cara memengaruhi masyarakat kita. Misalkan, kita harus beralih ke sistem yang didasarkan pada non-pertumbuhan; ekonomi mapan (steady-state).

Dalam buku setebal 188 halaman ini, Magdoff dan Foster menyajikan kerangka intinya, dan ini adalah titik fundamental ekonomi Marx, bahwa kapitalisme membutuhkan pertumbuhan. Namun para ekonom Marxian pada dasarnya tidak setuju dengan analisis struktur penting kapitalisme di mana komoditas (C) dipertukarkan dengan sejumlah uang (M), yang pada gilirannya digunakan untuk membeli komoditas lain (C) sehingga proses ini berakhir dengan nilai guna tertentu yang sepenuhnya dikonsumsi (C-M-C).

Rumus umum pertukaran di bawah sistem kapitalis memiliki bentuk yang lebih dinamis, yakni M-C-M’, di mana M’ adalah uang dipakai untuk membeli input guna memproduksi komoditas, yang lalu dijual untuk mendapakan lebih banyak uang, begitulah seterusnya. Poin penting dari sudut pandang krisis ekologi adalah bahwa tindakan memperoleh keuntungan semata-mata adalah tujuan sistem, bukan produksi sesuatu yang bermanfaat.

Singkatnya, menurut Magdoff dan Foster, kapitalisme merupakan akar penyebab krisis lingkungan, dan tidak mampu menyelesaikannya, baik direformasi untuk menjadi ‘ramah lingkungan’ atau dengan menjadi ‘non-pertumbuhan’.

Revolusi Ekologis

Dalam bab terakhir dijelaskan bahwa kita harus menggalakkan program radikal untuk aksi yang menunjukkan kepada orang-orang tentang kemungkinan dan kebutuhan dari revolusi ekologis. Tetapi, seperti apakah revolusi ekologis ini? Tentu saja bukan penghancuran semua teknologi dan kembali ke masyarakat agraris yang berkelanjutan, pun bukan kudeta eko-fasis, misalnya. Revolusi ekologis berarti memutus lingkaran setan eksploitasi atas manusia sekaligus atas alam.

Foster mengatakan bahwa sementara “tidak ada solusi kolektif dalam sistem (kapitalis)”, kita dapat dan harus “mempromosikan solusi kolektif dari dalam sistem (yang berfungsi) melawan logikanya.” (hal. 160).

Seperti apa yang ditulis oleh pengalih bahasa, Pius Ginting dalam pengantarnya, buku ini juga membahas solusi jangka panjang dan pendek; memprioritaskan isu-isu penting, perlunya perubahan gaya hidup masyarakat, perlunya perubahan kebijakan ekonomi agar menjadi lebih egaliter, yang dapat menciptakan penghematan penggunaan sumber daya. Kegiatan ekonomi tidak lagi digunakan untuk akumulasi keuntungan, namun memenuhi kebutuhan yang layak bagi seluruh rakyat agar dapat berkembang baik.

Meminjam perkataan Noam Chomsky, jika kita terus bertindak berdasarkan asumsi bahwa yang penting hanyalah kerasukan dan pendapatan pribadi, maka milik bersama akan hancur. Agar generasi bisa bertahan, kita harus mengekspresikan nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Maka dari itu, bersamaan dengan tambahan wacana pengetahuan yang disajikan dalam buku ini, tentunya diperlukan aksi nyata pendorong perubahan.

Seyogyanya semua pihak memedulikan nasib bumi, terutama untuk memutus diri dari sistem kapitalis. Mungkin solusi yang ditawarkan dalam buku ini bisa menjadi bahan pertimbangan dalam memperjuangkan perbaikan lingkungan demi terciptanya peradaban ekologi baru. Tentu, kalian tidak akan bisa memahami secara komprehensif buku ini jika hanya dari review singkat dari saya. Silakan membaca.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad