Menilik Kebijakan Agraria Secara Kritis

Judul Buku : Prespektif Agrarian Kritis; Telaah Teori, Kebijakan, dan Kajian Empiris Pengarang : Mohamad Shohibuddin Penerbit        ...

Judul Buku : Prespektif Agrarian Kritis; Telaah Teori, Kebijakan, dan Kajian Empiris
Pengarang : Mohamad Shohibuddin
Penerbit         : STPN Press
Cetakan        : Maret 2018
Tebal Buku : Ivxiv+ 233 hlmn: 15x23 cm
Peresensi : Fathan Z. Rosyid

Tanah hasil landreform yang dijalankan Pemerintah sejak medio 60-an kembali ke tangan segelintir orang/kelompok/institusi/korporasi. Kala itu sebenarnya agenda reforma agraria belum sepenuhnya selesai alias masih dalam tahap proses distribusi-redistribusi.

Pasca  era Soekarno perbincangan diskursus agraria dikalangan masyarakat cenderung dihindari karena takut dicap PKI.  Bahkan beberapa peneliti agraria seperti Gunawan Wiradi mengaku kesulitan melakukan penelitian karena masyarakat cenderung apatis dan mencari aman jika diwawancarai soal agraria.

Melihat cerita singkat diatas, membaca buku “Perspektif Agraria Kritis Telaah Teori, Kebijakan, dan Kajian Empiris” karya Muhammad Shohibuddin membuat pembaca  seperti melihat oase di tengah padang pasir. Alih –alih hanya membahas agraria sebagai objek kajian, shohibuddin lebih meletakkannya sebagai perspektif kritis.

Adapun  perspektif kritis yang dimaksud adalah “sebuah pendekatan interdisipliner dan komparatif dalam memandang sumber-sumber agraria, relasi –relasi teknis dan sosial terkait dengannya, serta tata pengurusannya (governance) yang dapat terwujud dalam berbagai isu kebijakan maupun dinamika sosial, kesetaraan ekonomi dan keberlanjutan ekonomi” (Hlm. 6).

Dari waktu ke waktu perdebatan antara reforma agraria Genuine atau sejati dengan Pseudo atau palsu memang selalu  menarik-sengit. Menurut para ilmuan perdebatan ini sangatlah urgent untuk melihat sejauh mana wacana dan praksis reforma agraria menyentuh akar substansi permasalahan yang meliputi beberapa diantaranya; keadilan sosial dan ekonomi, kesetaraan akses sumber- sumber agraria (SSA) dan keberlanjutan sumber-sumber agraria.

Secara sederhana prinsip reforma agaria sejati adalah distribusi - redistribusi tanah (land reform) jika sebalikanya (non distribusi – redistribusi) maka termasuk reforma agraria palsu, apalagi rekonsentrasi – monopoli tanah, tentu hal itu bisa disebut anti-reforma agraria. Lalu apakah kualifikasinya sesederhana itu?  Tentu tidak, pembaca bisa membaca lebih lanjut soal ini.

Diluar perdebatan diatas shohibuddin menawarkan dua kriteria sebagai barometer reforma agraria sejati yang ia kutip dari pendapat Borras dan Franco (2010).
Pertama transfer actual, yakni sejauh mana kebijakan pembaruan relasi sosial agraria dapat memastikan bahwa manfaat ekonomi dan politik benar-benar tertuju pada kelompok yang dituju, alih –alih hanya memberikan hak legal atas aset agraria (misalnya sekedar pemberian sertifikat hak tanah). Kedua  dampak redistribusi, menuntut arah transfer neto dipastikan mengalir pada lapisan lintas kelas misalnya; dari negara, korporasi, desa, komunitas atau lapisan sosial atas kepada lapisan sosial bawah.

Buku ini juga merekam konflik Din Mini, mantan gerakan kombatan (GAM) dengan perspektif agraria dimana terdapat temuan-temuan seputar gagalnya kesepakatan damai terkait SSA, dinamika konflik menimbulkan kerusakan pada lingkungan dan ekosistem, ketidakpastian dan peralihan dan perubahan struktur demografi dst. Meskipun temuan – temuan diatas tidak begitu terpublikasi karena framing media seakan konflik itu seputar keamanan dan separatisme.

Di akhir bab buku ini saya begitu antusias membaca. Sebab pada bab akhir buku ini membahas soal ijtihad agraria Nahdlatul Ulama (NU) dalam sejarahnya. Tulisan ini menarik terutama soal arus balik manuver NU dalam menyikapi land reform ditahun 1961 dibawah putusan forum konferensi ulama’ di Jakarta dan Munas Alim Ulama’ di Mataram tahun 2017. Dibawah prinsip dasar yang sama yakni asas melindungi jiwa (hifzhun –nafs) dan harta (hifzhul al – mal). Dua konsep ini kemudian dimaknai secara sama sekali berbeda.

Konferensi Jakarta memaknai dua konsep diatas untuk mengafirmasi kepentingan hak milik pribadi (hurriyah at-tamlik). Sedangkan Munas Alim Ulama Mataram lebih memaknai sebagai upaya pemerataan ekonomi dengan dalih bahwa Islam anti-ketimpangan. Dua perbedaan pemaknaan tadi tidak lepas dari konteks keadaan sosio-politik waktu itu.

Dimana tahun 1961 adalah proses masa persiapan penerapan land reform oleh panitia land reform. Ketika itu marak terjadi aksi sepihak oleh Barisan Tani Indonesia, organisasi petani yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia menyasar  para anggota PERTANU (organisasi tani yang berafiliasi dengan NU) karena yang disebutkan terakhir diasumsikan sebagai kelas tuan tanah.

Selain itu faktor perang dingin Blok Timur dan Blok Barat waktu itu sehingga NU berupaya menawarkan altenatif baru pengharaman kebijakan land reform. Meskipun pengharaman ini tidak bersifat bulat satu suara dimana sebagian kyai-kyai NU seperti KH Muchit Muzadi mendukung land reform pemerintah.

Jika dibandingkan penjelasan Dita Anggraeni dalam bukunya Islam dan Agraria; Telaah Normatif dan Historis Perjuangan Islam dalam Merombak Ketidakadilan Agraria tentang pandangan NU  atas Land Reform pada tahun 1961, buku Shohibuddin ini lebih komprehensif. Selain tidak menyinggung konteks sosio-politik waktu itu secara mendalam, Dita cenderung berapologi mengenai ketidaksetujuan sebagian besar ulama NU waktu dengan mengatakan bahwa walau bagaimanapun ulama’ adalah panutan masyarakat (Dita:63), alih-alih dapat menjelaskan secara objektif –rasional.

Seperti dikatakan Amir Mahmud dalam pengantar buku ini mewakili Sajogjo Institute, penting bagi pengajar, pelajar, pengorganisir rakyat, pengambil kebijakan hingga para pendakwah membaca buku ini. Mengingat mempelajari problem agraria sangat rumit sebab ia berkait kelindan dengan aspek kelas sosial, ekonomi,sosiologi dst.  Selamat membaca!

COMMENTS

Name

agama,6,ekonomi politik,14,filsafat,1,gambaran umum,1,Go-Book,1,Go-Read,3,Go-Res,1,Jalan Tol Trans Jawa,1,Jokowi,1,Kolom,2,Pendidikan,5,Penulis,23,perempuan,4,Proyek Tol,1,sastra,8,sejarah,3,Tokoh,4,visi misi,1,
ltr
item
Minerva Foundation: Menilik Kebijakan Agraria Secara Kritis
Menilik Kebijakan Agraria Secara Kritis
https://1.bp.blogspot.com/-dD6b8e8fXck/W8ieww8oNRI/AAAAAAAAAGE/3amo4v3sSik4p4ykM5Ou5_BDKPFEnPaUgCLcBGAs/s400/feaa59ac-e322-4b33-99f6-7acfa6a73e4e.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-dD6b8e8fXck/W8ieww8oNRI/AAAAAAAAAGE/3amo4v3sSik4p4ykM5Ou5_BDKPFEnPaUgCLcBGAs/s72-c/feaa59ac-e322-4b33-99f6-7acfa6a73e4e.jpg
Minerva Foundation
https://www.minerva.id/2018/10/mari-menilik-kebijakan-agraria-secara.html
https://www.minerva.id/
http://www.minerva.id/
http://www.minerva.id/2018/10/mari-menilik-kebijakan-agraria-secara.html
true
858439823600839698
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy