Bincang Literasi; Merayakan dan Mempertanyakan Masa Depan Literasi

Minerva.id mengadakan diskusi santai bertajuk Bincang Literasi di Kedai Kopi Djapoe Segitiga Emas Ngaliyan Semarang pada hari Sabtu (2...


Minerva.id mengadakan diskusi santai bertajuk Bincang Literasi di Kedai Kopi Djapoe Segitiga Emas Ngaliyan Semarang pada hari Sabtu (26/10). Diskusi ini merupakan sebentuk peringatan satu tahun Minerva Foundation. Bertema Merayakan dan Mempertanyakan Masa Depan Literasi, Minerva Foundation mengundang beberapa perwakilan komunitas literasi yang ada di Semarang, terkhusus Ngaliyan region sebagai tamu sekaligus narasumber. Di antaranya ialah Ancang Baca diwakili bung Fajar, Marjin Bola oleh bung Fadli, Bacabukumu ada bung Aziz, Bagas dari Kalam Kopi, dan tentu saja dari kami, Minerva.id yang diwakili oleh Umi. 

Dibuka oleh Fathan sebagai host, perbincangan dimulai dari perkenalan masing-masing komunitas/platform literasi. 

Fajar bercerita, awal dicetuskannya Ancang Baca merupakan follow-up dari Joglo Kaweruh, yaitu perkumpulan teman-teman eks-pengurus rayon Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) . Keseringan melakukan tongkrong bareng di Joglo Cafe, lalu kami berinisiatif untuk mendorong produktifitas kawan-kawan kumpulan tersebut membuat forum diskusi dan baca buku. Perkumpulan ini basisnya adalah mahasiswa untuk mendorong minat baca, dengan tagline ceritakan apa yang kamu baca, akan kuceritakan apa yang kamu baca. 

“Kegiatan rutin dari komunitas ini ada beberapa macam. Pertama bernama care, yaitu rutinitas kajian ekonomi, yang kedua malam Jumat, diawali tahlil yasin, setelah itu bareng-bareng membaca lalu menceritakan apa yang dibaca. Kemudian hari Senin ada rutinan sastra, biasanya teman-teman tangkal yang rutin," tutur Fajar. 

Kemudian Bacabukumu kata Aziz, komunitas ini berawal dari kegalauan teman-teman mahasiswa yang hanya nongkrong unfaedah di sebuah angkringan sederhana yakni Buds Cofee, yang kemudian mendorong kumpulan ini agar bermanfaat, khususnya dalam hal membaca. Kemudian muncullah bacabukumu. Terbasi adalah partner yang membuat baca buku semangat lagi untuk mengadakan rutinitasnya. 

Lalu Marjinbola. Fadli bercerita bahwa ia awalnya membeli hosting, buat web, menulis dan menerima tulisan-tulisan tentang bola. Selain dia ada Daniel di web master. Ada juga Junaid yang menulis soal Liga Indonesia. Marjinbola coraknya bukan statistik, melainkan melihat permainan sepakbola secara analitis dan kritis. 

Selanjutnya, Kalam Kopi. Bagas bercerita, Tahun 2015 kawan-kawan mahasiswa satu kelas di Jurusan Sejarah sering kumpul bareng. Berawal dari kritik cara belajar dosen UNNES yang membosankan kemudian teman-teman ingin punya wadah belajar sendiri. Kumpulan ini juga berawal dari rasa keganjalan teman-teman yang aktif di organisasinya masing-masing (baik ekstra maupun intra) yang monoton. 

Awalnya kumpulan ini spesifik membahas sejarah dan mendiskusikan tentang buku babon-babon sejarah, belum terfikirkan soal web sampai seperti yang sekarang ini. Penamaan Kalam Kopi sendiri dicetuskan oleh Asep. Mengenai filosofi bisa ditanyakan sendiri mungkin ke dia. Saya tidak begitu paham karena katanya itu berasal dari Bahasa Arab gitu. 

Dari baca-baca dan belajar lalu 2016 terfikirkan untuk membuat web sebagai wadah latihan menulis teman-teman dari hasil belajarnya. Di tahun itu pula, tepatnya akhir 2016 terpikirkan untuk membuat koperasi, namun baru terbentuk pada tahun 2018 yang dikenal dengan nama Koperasi Moeda Kerdja.”

Kemudian Minerva foundation. Umi menjelaskan bahwa komunitas ini lebih tepatnya adalah sebuah platform media literasi penyedia beasiswa untuk semua orang yang mau menulis resensi buku. Lahir tepat pada tanggal 17 agustus 2018. Pada tanggal itu lah Minerva membuat web dengan nama Minerva.id. 

Awalnya minerva berawal dari kebiasaan saya dan salah satu senior, yaitu dibelikan buku tapi ada syarat bikin resensi. Kemudian lama kelamaan mulai berpikir bagaimana kalau ini dijadikan sebuah platform untuk memfasilitasi minat baca teman-teman yang mempunyai kesulitan finansial atau yang minim referensi bacaan. Akhirnya terbentuklah Minerva foundation. Dulu Minerva menjadi nama buletinnya PMII cabang Kota Semarang, berangkat dari nama tokoh mitologi dewi pengetahuan dari Yunani. Kenapa foundation? Hal ini diharapkan kedepan berorientasi menjadi lembaga besar yang bergerak sebagai platform literasi., kata Umi. 

Setelah itu, Fatan mengajukan sebuah pertanyaan, mengapa literasi? 

Bagas menjawab, bahwa konsekuensi memilih literasi ini sangat besar, karena literasi itu mengharuskan kita untuk melek keadaan. Untuk mendapatkan literasi kita tidak hanya mencari lewat media buku, lewat pendengaran, film."Sekarang mungkin bagi saya tidak terlalu mengagungkan baca buku, bagiku itu ya biasa saja,"jelasnya. 

Sedangkan bagi Fajar, literasi merupakan suatu kebutuhan, sebagai bentuk pertanggungjawaban atas status mahasiswa, maka apa yang dibicarakan harus bisa dipertanggung jawabkan melalui hasil bacaannya. 

Lalu apa saja tantangannya selama menjadi pegiat literasi dan bagaimana meregenerasi? 

Kata Aziz, tantanganya mungkin setelah para pegiat sudah lulus lalu berkurang. 

Fadli sendiri menganggap era digital sebagai sebuah tantangan. Kalau kita sudah masuk ke dunia digital yang penting dimulai saja. 

"Aku ngutip Panji, kalau di dunia digital yang penting sedikit lebih beda itu lebih baik daripada sedikit lebih baik." tuturnya 

Contoh goyang dribel, kenapa saya mudah teringat, karena dia beda. Katanya. Untuk keanggotaan Marjinbola, ia mengatakan sempat membuka rekrutmen dan beberapa orang berminat, tapi karena tidak ada fee alias sukarela banyak yang mundur.

Menurut Bagas, kita mesti slow mungkin dalam membuat area diskusi, misalnya dalam hal digital, kiat sudah bikin youtube, podcast.

“Semua kanal digital udah coba dibuat, tantangannya ya harus telaten. Yang jelas hari ini tantangannya dalam menghadapi era digital. Tantangan merekrut anggota juga sudah beda kalau dulu dengan cara ngajak maksa-maksa sedangkan sekarang harus lebih soft,"pungkasnya. 

Giliran Minerva Foundation, Umi menyampaikan, Karena fokusnya adalah tulisan resensi yang dimuat di web maka tantangannya ya harus ada yang mau menghidupi web ini. Terkait regenerasi karena para pegiat kita berawal dari teman-teman tongkrongan bernama curut institut, ke depan kita ingin generasinya memang teman-teman yang mampu dalam pengelolaan media ini, mulai dari edit tulisan, web, dan desain.

"Kita memang sangat tergantung donatur, karena terkait beasiswa juga perlu dana. Kedepan harapannya kita bisa melegalkan Minerva Foundation sehingga mudah dalam mencari pendanaan.” jelas Umi.

Setelah sesi tanya jawab host dan narasumber dibukalah sesi tanggapan dari peserta diskusi.

Pertama, oleh Zakiya. Ia bertanya, bagaimana cara komunitas dalam menghadapi tantangan keistiqomahan dalam menjaga konsistensi langgam komunitasnya masing-masing? 

Bagi Fajar, soal stagnansi dan bosan itu manusiawi.

“Kalau dari Ancang Baca ayo niatkan kita disini untuk belajar, niat ikhlas bangun komunitas," katanya.

Aziz dari Bacabukumu mengatakan mereka pernah vakum, dalam hal diskusi dan websitenya, karena ada terbasi ia dan teman-temannya terpantik untuk menghidupkan lagi.

Sedangkan di Marjin Bola, kata Fadhli, itu bukan nulis statistik, bebas asal masih berkaitan dengan sepakbola. "Kita nulis misalnya Perempuan Magelang dan PPSM misalnya. Ya monggo. Ke depan kita ingin menggaet temen-temen yang main PS kita minta nulis tentang strategi main PS-nya.” jelasnya.

Sedang di Kalamkopi, untuk mengatasi kebosanan dan stagnasi komunitas kadang mereka nge-track tentang pengalaman-pengalaman dulu sebagai bahan untuk evaluasi untuk memberikan inovasi-inovasi baru. Sehingga muncul ide, website, youtube, koperasi. “Tantangannya ya perbanyak ide dan hadapi saja tantangan-tantangan kedepan. Kita kerjain aja persoalan itu meskipun dianggap penting atau tidak," kata Bagas. 

Di Minerva sendiri, kata Umi, tantangannya harus lebih profesional lagi. Karena kan peminat Minerva itu dari mana saja, dan kita dikenal lewat medianya, maka yang penting responsif. Kadang lama responsif ya masalahnya itu, ada yang lagi sibuk, atau karena alat produksinya rusak. Atau kalau masalahnya malas sih wajar tapi harus tetap saling mengingatkan. Karena kerja ini sukarela jadi ya sebisanya. Tapi diusahakan profesional.

Pertanyaan selanjutnya dari Bagus, mahasiswa Fakultas Syariah, mengapa tidak ada menteri literasi? 

Jawaban Bagas, kalau literasi hanya dipersempit soal buku bacaan, kurang apa negara dalam memfasilitasi. Misalnya gedung perpus kita tertinggi se-Asia Tenggara. Justru tantangan ke depan kita itu tidak terlalu capek dengan kerja-kerja produktif karena sudah dikerjakan robot. Kita bisa santai diskusi-diskusi seperti ini membincangkan hal-hal yang bersifat abstrak dan imajinatif.

Tanggapan berikutnya dari Bung Cahyono. Katanya, Ada beberapa hal yang mungkin bisa temen-temen respon. Yang terpenting dari literasi adalah kita bisa menjadi produsen literasi, sebagai konsekuensinya ya kita harus pandai-pandai memenuhi kebutuhan konsumen (pembaca).

"Saya ingin literasi semarang ini bagaimana mengalihkan opini umum literasi. Misalnya gini kencan biasanya malam minggu, lalu menarasikan bahwa kencan tidak melulu pada malam minggu tapi bisa pada di hari aktif misalnya. Karena seolah-olah semua orang ini PNS yang libur pada weekend sehingga kencan itu hanya pada malam minggu," jelasnya.

Jadi imajinasi literasi bisa menciptakan paradigma umum yang jadinya k-pop menjadi outsider, misal. Misalnya ancang baca ya mencerdaskan lewat diskusi, marjinbola ya harus fire dalam menginformasikan bola.

Tanggapan itu sekaligus menutup diskusi. Mewakili panitia, Fathan selaku pembawa acara mengucapkan terimakasih untuk semua yang telah hadir dan berpartisipasi dalam diskusi tersebut. Terutama kepada para pegiat komunitas yang telah diundang. Terimakasih pula kepada kawan Syukron atas pinjaman tempatnya di Kedai Kopi Djapoe Segitiga Emas. Dan tidak lupa juga untuk Komunitas Musik Tangkal yang bersedia membawakan beberapa lagu sebagai pembuka dan penutup diskusi. Tabik.

Oleh : Sajidin

COMMENTS

Nama

agama,9,aktivis,4,amangkurat,1,artifisial inteligence,1,big data,1,Buku,1,buminata,1,Demokrasi,1,digital,1,diskusi,1,ekonomi politik,16,filsafat,3,gambaran umum,1,Go-Book,1,Go-Read,3,Go-Res,1,hakikat manusia,1,indonesia,1,intelektual,1,islam,2,Jalan Tol Trans Jawa,1,Jawa,1,Jokowi,1,khalifah,1,Kolom,2,literasi,1,manusia,1,Mataram,1,membaca,1,merdeka,1,Pemalang,1,Pendidikan,6,penjajahan.,1,Penulis,24,peradaban,2,perempuan,5,Peresensi,2,Politik,1,Proyek Tol,1,revisionis,1,revolusi industri 4.0,1,sastra,11,sejarah,6,Sulawesi Selatan,1,teori,1,Tokoh,7,visi misi,1,
ltr
item
Minerva Foundation: Bincang Literasi; Merayakan dan Mempertanyakan Masa Depan Literasi
Bincang Literasi; Merayakan dan Mempertanyakan Masa Depan Literasi
https://1.bp.blogspot.com/-Sggby4496A8/Xc9cL7DoQBI/AAAAAAAAAjg/2NsVPxUUIjwN-Yidd_gOkWh7ZuaVpZ0-QCEwYBhgL/s320/WhatsApp%2BImage%2B2019-10-26%2Bat%2B7.00.54%2BAM.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-Sggby4496A8/Xc9cL7DoQBI/AAAAAAAAAjg/2NsVPxUUIjwN-Yidd_gOkWh7ZuaVpZ0-QCEwYBhgL/s72-c/WhatsApp%2BImage%2B2019-10-26%2Bat%2B7.00.54%2BAM.jpeg
Minerva Foundation
http://www.minerva.id/2019/11/bincang-literasi-merayakan-dan.html
http://www.minerva.id/
http://www.minerva.id/
http://www.minerva.id/2019/11/bincang-literasi-merayakan-dan.html
true
858439823600839698
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy