Minerva Foundation

Baca Apa yang Ingin Kamu Baca

Terbaru

Sunday, September 9, 2018

Revitalisasi Islam Oleh Kelas Menengah Muslim Indonesia



Judul                : Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia
Penulis             : Wasisto Raharjo Jati
Tahun terbit    : 2017
Penerbit          : LP3ES
Tebal               : 179 halaman
ISBN                 : 978-602-7984-26-4
Peresensi      : Hasan Ainul Yaqin

Islam merupakan agama universal. Artinya kehadiran agama ini tidak hanya berbicara dalam konteks teologi yaitu hubungan transenden antara hamba dan tuhannya semata. Melainkan ajaran Agama Islam merespon banyak hal dalam kehidupan sehari – hari baik dalam urusan ekonomi, sosial, dan politik sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Itulah yang diulas oleh Wasisto Rahardjo Jati dalam buku ini.

Karena Islam menyoal banyak hal, maka Islam tidak boleh dimaknai sebatas pada persoalan ketuhanan saja. Harus ada penggerak untuk menghidupkan kembali ruh dan spirit Agama Islam yang kian lama semakin gersang dalam praktek keagamaan masyarakat muslim di Indonesia. Oleh sebab itu kelas menengah muslim inilah yang potensial menjadi penggerak dalam memperbaharui nilai-nilai agama sebagai pedoman hidup. Selain membahas soal itu, Wasisto dalam buku ini juga  menjelaskan bagaimana hubungan Islam di tengah arus modernitas.

Seperti disampaikan Azyumardi Azra dalam pengantar buku ini bahwa kelas menengah muslim Indonesia turut aktif dalam segala bidang kehidupan. Contohnya pemberdayaan ekonomi, peningkatan pendidikan, perbaikan kesehatan, memberi bantuan pada korban bencana, dan aktivitas lain guna mengangkat martabat umat Islam secara keseluruhan. Jika semua peningkatan urusan kemanusiaan atau keummatan dilakukan, maka dapat menunjukkan bahwa Islam menjadi lebih beradab.

Untuk dapat melakukan aktivitas demikian tentu dibutuhkan pengetahuan mendalam untuk memaknai Islam sebagai agama pendorong semangat dalam setiap aspek kehidupan yang dijalani. Dan hal itu akan lebih komprehensif lagi jika pemaknaannya yang mendalam tentang Islam dibawa pada ranah gerakan politik Islam di negara ini.

Geneologi Pembentukan Kelas Menengah Muslim


Pembangunan kelas menengah muslim Indonesia secara geneologi yang dijabarkan dalam buku ini terdapat tiga jalur yaitu, perdagangan, pendidikan, dan perjalanan haji. Melalui perdagangan itu terbentuk aktivitas saling berbagi gagasan intelektual demi terciptanya pembangunan kelas menengah muslim Indonesia. Dengan adanya perdagangan tersebut juga dapat menguatkan stabilitas ekonomi masyarakat Indonesia khususnya di Jawa (hal 43).

Lewat jalur perdagangan ini juga menunjukkan bahwa  dalam Islam terdapat semangat bekerja keras untuk meningkatkan pendapatan ekonomi. Dengan semangat itulah kemudian dapat turut meningkatkan kehidupan lebih baik terutama dalam pemberdayaan yang menyangkut kepentingan hidup orang banyak, khususnya pembangunan masyarakat muslim. Seperti adanya ibadah zakat, wakaf, shodaqoh, infaq yang membutuhkan kepemilikan materi atau harta benda untuk ditunaikan maka penting bagi umat Islam untuk bekerja mencari penghasilan materi tersebut.

Dengan dasar itu, maka sesungguhnya Islam memerintahkan penganutnya untuk bekerja keras dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi agar dapat menunaikan perintah agamanya. Konsekuensinya berdampak positif apabila kemudian langkah pendistribusian harta tersebut diatur dengan baik. Sehingga harta sebagai nilai ekonomi tidak terpusat pada perorangan saja, melainkan dapat dirasakan banyak orang yang membutuhkan.

Melalui kelas menengah sebagai inisiator akan tercipta kondisi hidup umat muslim Indonesia sebagai bangsa yang lebih baik dalam mempraktekkan nilai agama dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu akan terangkat marwah dan martabat umat muslim itu sendiri. Hal ini pula yang dijelaskan Max Webber dalam bukunya berjudul The Ethic and Spirit Of Capitalisme yang kemudian dikutib dalam buku Politik Kelas Menengan Muslim Indonesia karya Wasisto ini. Bagaimana agama memberikan semangat kepada hambanya untuk bekerja keras dalam soal ekonomi khususnya yang pada tujuan mulianya mengabdikan diri pada tuhan dengan cara yang sudah diatur, yakni lewat ibadah muamalah seperti Zakat dan lain-lain.

Berikutnya pembangunan masyarakat kelas menengah muslim melalui pendidikan. Pendidikan sebagai dasar dalam rangka membentuk pola pikir dan intelektual kelas menengah muslim. Berdirinya banyak pesantren di Indonesia adalah jalan menuju pembentukan modal sosial kelas. Seiring berjalannya waktu, dengan berdirinya kampus Islam di Indonesia semacam STAIN, IAIN, dan UIN, kaum santri mempunyai orientasi yang jelas. Sehingga dapat lebih memaksimalkan diri dalam memahami sekaligus menghidupkan kembali Islam yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Dididiknya kelas menengah dengan kolaborasi antara pengetahuan selama di pesantren yang lebih kepada pengetahuan tradisional dan Perguruan tingga Islam yang lebih kepada pengetahuan kontemporer akan tercipta muslim kelas menengah muslim Indonesia yang progresif tanpa meninggalkan tradisi yang sudah menjadi bagian hidup masyarakat muslim Indonesia. Sehingga agama Islam tidak begitu kolot diajak bernegosiasi dengan zaman yang semakin dinamis.

Terakhir, perjalanan haji. Haji dalam konteks Indonesia tidak saja berbicara soal memenuhi panggilan tuhan sesuai kemampuan yang dimiliki (materi atau fisik) melainkan ada afiliasi politik di dalamnya. Dalam buku ini dipaparkan penyematan gelar haji/hajjah di depan nama atau perubahan nama dengan nama yang mencorakkan identitas keislaman adalah bentuk penguatan ibadah haji secara politik. Tidak heran selepas pulang dari tanah suci dengan tambahan gelar haji di depan nama kedudukan mereka di lingkungan masyarakatnya menjadi lebih dihormati. Naiknya stratifikasi sosial pada mereka yang berhaji itulah kemudian yang memberi pengaruh besar pada masyarakat sekitarnya. Sehingga memberdayakan pembangunan umat muslim melalui ibadah haji sangat mungkin terjadi.

Islam dan Arus Modernitas


Buku ini juga mengulas bahwa Islam tidak sebatas dimaknai sebagai ajaran ataupun pedoman hidup dalam kasus kelas menengah muslim. Akan tetapi Islam pun mengarah pada persoalan gaya hidup walaupun secara substansi masih diragukan apakah benar merupakan ajaran agama atau budaya negara setempat yang kemudian diakulturasi di Indonesia sehingga banyak terjadi klaim itu ajaran agama seperti pemakaian jilbab, jubah, qosidah dan lain sebagainya.

Membaca keadaan tersebut kemudian muncul istilah wacana Islam populer, ialah Islam yang lebih mengedepankan pada persoalan gaya hidup. Kondisi demikianlah yang dibawa kelas menengah muslim untuk bersikokoh menunjukkan eksistensinya yang sebelumnya diwanti-wanti oleh rezim orde baru jika ada produk berlabel Islam mencuat ke permukaan.

Sesuai penjelasan dalam bagian bab buku ini bahwa kelas menengah lahir dari adanya otoritarianisme, ketimpangan, dan alineasi terhadap Islam. Saat Islam ditekan di bawah pemimpin otoriter, implikasinya ketika pemimpin itu tumbang seiring terbukanya kran demokrasi maka banyak dari kelas menengah muslim Indonesia bergerak mencari ruang guna menunjukkan identitas baju keislaman sesuai pemahaman masing – masing kelas menengah muslim. Seperti lahirnya Fron Pembela Islam (FPI), Forum Betawi Rempug (FBR), laskar jihad dan lain sebagainya. (hal 77)

Keterlibatan Muslim Menengah di Parpol


Ariel Haryanto yang dikutip dalam buku ini pula, membedakan Islam populer yang terlahir dari formulasi agama dan Islam populer yang terlahir dari budaya populer (hal 81). Gerakan Islam popular yang dilahirkan dari formulasi agama memperlihatkan ekpresinya di area publik. Ekpresi yang ditunjukkan gerakan Islam populer ialah sebuah akibat dari termarjinalnya ketika masa rezim otoritarian.

Karena merasa terkucilkan, gerakan ini mengandaikan agama sebagai jalan untuk meraih panggung kekuasaan. Seperti yang sudah disebutkan dalam bagian bab sebelumnya. Sebetulnya golongan gerakan Islam ini muncul atau berjuang bukan murni memperjuangkan agama Islam, melainkan berebut tiket ekonomi dan politik. Ambisi meraih kekuasaan dengan memainkan agama inilah pada akhirnya bibit radikalisme tumbuh.

Selanjutnya Islam populer yang terlahir dari budaya populer. Hal ini merupakan akibat dari kapitalisme di dunia industri terhadap nilai ketaqwaan umat Islam. Golongan kedua ini tidak mempedulikan bagaimana harus berislam. Yang terpenting bagi mereka yaitu apabila mereka mengkonsumsi produk islami akan sendirinya mereka merasa telah menjalankan ajaran agama yang dianutnya. Sehingga ketika mereka dihadapkan pada kompetisi politik sebagai poros penguatan partai politik Islam dan gerakan Islam yang bertujuan melegalkan syariat dalam setiap visi misinya selalu gagal dan kalah dari partai non Islam.

Karena itu keberagamaan masyarakat Islam sendiri masih sebatas pada produk budaya massa bukan pada level formal masyarakat. Seperti yang disampaikan Yudi Latif bahwa salah satu penyebab kalahnya partai politik Islam yaitu karena kualitas masyarakat muslim sendiri masih belum maksimal dalam ranah penguasaan pengetahuan dan ekonomi meskipun secara kuantitas masyarakat muslim Indonesia menjadi penduduk masyoritas.

Karena ketidaktahuan inilah masyarakat Islam hanya mengamalkan Islam sebatas produk Islami saja, bukan ajaran murni ajaran Islam itu sendiri baik dalam segi ekonomi, sosial, maupun politik. begitupun yang disampaikan Azyumardi Azra, penggunaan simbol Islam tidaklah prospektif untuk menguatkan partai politik Islam. Dan inilah salah satu penyebab mengapa partai Islam selalu kalah dalam kompetisi panggung kekuasaan.

Kesimpulan


Buku karya Wasisto ini sangat menarik untuk dikaji sekaligus direnungi dalam memahami kelas menengah muslim Indonesia dalam sudut pandang sosial politik sesuai temanya Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia. Baginya kelas menengah muslim di Indonesia berbeda dengan kelas menengah di barat yang lebih bersifat individual. Seperti disampaikan  di kata pengantarnya, Wasisto memilih menganalisis kelas menegah muslim Indonesia dalam polilik keseharian.

Selain itu juga, dalam buku ini ia menjabarkan geneologi kelas menengah sampai pada peran dan eksistensi kelas menengah muslim di era modernitas seperti sekarang ini. sehingga ketika Islam yang dijadikan pedoman hidup masyarakat membuktikan bahwa Islam tidaklah rapuh bernegosiasi dengan semakin dinamisnya zaman yang diinisiatori oleh kelas menengah muslim Indonesia.

Bagian bab buku ini Wasisto menjabarkan kondisi berikut peran kelas menengah muslim Indonesia di daerah perkotaan. Namun akan lebih baik lagi jika peran kelas menengah di lingkungan pedesaan juga diperhatikan untuk diulas dalam buku tersebut. Mengingat saat ini proses modernisasi telah merambah di pedesaan. Gejala seperti apatisnya warga dalam menjaga lingkungan, menurunnya ketertarikan masyarakat desa pada sektor pertanian dan lainnya patut disoroti. Maka untuk mengembalikan kesadaran yang kian memupus, kelas menengah muslim harus ambil peran khususnya di wilayah pedesaan.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad